Selasa, Desember 30, 2008

konsep diri positif untuk masa depan....

Perubahan dunia yang sangat pesat membuat persaingan hidup semakin meningkat. Para orangtua saat ini berlomba-lomba untuk memberikan bekal pendidikan, yang dipercayai sebagai bekal terbaik bagi anak yaitu pendidikan. Asumsi orangtua pada umumnya adalah semakin tinggi level pendidikan formal maka akan semakin terjamin masa depan anaknya. Apakah benar demikian ?
Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Dr. Eli Ginzberg beserta timnya menemukan satu hasil yang mencengangkan. Penelitian ini melibatkan 342 subyek penelitian yang merupakan lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Para subyek penelitian ini adalah mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa dari Colombia University. Dr. Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa itu dalam hidup mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi mereka. Hasil penelitian yang benar-benar mengejutan para peneliti itu adalah:
Mereka yang lulus dengan mendapat penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum laude), mereka yang mendapatkan penghargaan atas prestasi akademiknya, mereka yang berhasil masuk dalam Phi Beta Kappa ternyata lebih cenderung berprestasi biasa-biasa.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan langsung antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Lalu faktor apa yang menjadi kunci keberhasilan hidup manusia ? Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positif. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating system yang menjalankan suatu komputer. Terlepas dari sebaik apapun perangkat keras komputer dan program yang di-install, apabila sistem operasinya tidak baik dan banyak kesalahan maka komputer tidak dapat bekerja dengan maksimal. Hal yang sama berlaku bagi manusia. Konsep diri adalah sistem operasi yang menjalankan komputer mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri ini setelah ter-install akan masuk dipikiran bawah sadar dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang dalam suatu saat. Semakin baik konsep diri maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil. Demikian
pula sebaliknya. Proses pembentukan konsep diri dimulai sejak anak masih kecil. Masa kritis pembentukan konsep diri adalah saat anak masuk di sekolah dasar. Glasser, seorang pakar pendidikan dari Amerika, menyatakan bahwa lima tahun pertama di SD akan menentukan "nasib" anak selanjutnya. Sering kali proses
pendidikan yang salah, saat di SD, berakibat pada rusaknya konsep diri anak. Kita dapat melihat konsep diri seseorang dari sikap mereka. Konsep diri yang jelek akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya.
Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positif, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal.

Konsep Diri Positif dan Konsep Diri Negatif
Konsep diri sendiri dibedakan menjadi dua, yakni konsep diri positif dan konsep diri negatif. Wicklund dan Frey (dalam Calhoun dan Acocella, 1990, h. 73) mengatakan individu dengan konsep diri positif akan lebih mengenal dirinya dengan baik sehingga memiliki penerimaan diri. Orang dengan konsep diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri.
Hamachek (dalam Rakhmat, 2000, h. 106) mengemukakan individu dengan konsep diri positif akan memiliki ciri-ciri seperti: meyakini dan bersedia mempertahankan nilai-nilai dari prinsip yang dimiliki, namun merasa cukup tangguh untuk mengubah prinsip apabila pengalaman dan bukti baru menunjukkan dirinya salah; mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik; memiliki keyakinan pada kemampuan untuk mengatasi persoalan; sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting bagi orang lain; dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati dan menerima pujian tanpa merasa bersalah; cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya; sanggup mengaku kepada orang lain bahwa dirinya mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan; dan mampu mengenali dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan.
Calhoun dan Acocella (1990, h. 72) menyatakan ada dua jenis konsep diri negatif. Pertama, pandangan seseorang tentang dirinya benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan. Individu benar-benar tidak tahu siapa dirinya, apa kekuatan dan kelemahannya, atau apa yang dihargai dalam hidupnya, dalam segala aktivitas, individu cenderung menggantungkan diri pada orang lain. Kedua, merupakan lawan dari tipe pertama, konsep diri yang terlalu stabil dan terlalu teratur atau kaku.
Menurut Brooks dan Emmert (dalam Rakhmat, 2000, h. 105) individu yang memiliki konsep diri negatif memiliki ciri-ciri seperti,:
a. Peka terhadap kritik, tidak tahan terhadap kritik yang diterimanya,menganggap kritik sebagai usaha menjatuhkan dirinya
b. Responsif terhadap pujian, walaupun ia berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian
c. Hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, merasa atau meremehkan orang lain. Tidak pandai mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain Merasa tidak disukai orang lain dan merasa tidak diperhatikan
d. Bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Individu ini menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

Referensi :
Calhoun, J.F. & Acocella. J.R. 1990. Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan New York : McGraw-Hill.
Rakhmat, J. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : CV. Remaja Karya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar