Selasa, Desember 30, 2008

Single Parent....Yes Or No ?

Kendati masyarakat Barat di abad ke-21 saat ini tengah berada di puncak kemajuan industri, namun ia masih saja tak luput dari pelbagai jeratan krisis dan persoalan. Kini, Institusi keluarga di masyarakat Barat tengah mengalami proses perapuhan. Sejak dua generasi belakangan ini, model perkawainan masyarakat Barat tengah mengalami perubahan mendasar yang amat dahsyat. Hingga urgensi persoalan menjaga bangunan keluarga telah menjadi isu utama gerakan moral di Barat. Beberapa faktor seperti kian meningkatnya angka perceraian, gaya hidup bersama tanpa ikatan nikah, makin bertambahnya jumlah anak-anak yang lahir di luar nikah, dan kian bebasnya hubungan seksual, telah menambah pelbagai ragam dan model single parents di Barat. Meskipun keluarga merupakan unit terkecil struktur masyarakat namun ia adalah institusi sosial yang paling penting. Beberapa abad sebelum bermulanya revolusi industri, keluarga merupakan institusi sosial dan ekonomi yang mandiri, dan biasanya terbentuk dari beberapa generasi. Dalam kelompok sosial ini, kakek dan nenek senantiasa berusaha memperjuangkan nasib keluarga bersama cucu-cucunya. Pada awal abad ke-19, posisi lelaki memegang peran sebagai pemberi nafkah keluarga. Mereka bekerja di luar rumah, sementara perempuan bertangung jawab mengurusi persoalan rumah tangga. Namun, perlahan-lahan di sepanjang abad ke-19, tradisi keluarga di Barat mulai berubah. Pada abad ke-20, khususnya pada dekade 60-an dan 70-an, terjadi perubahan fundamental dalam struktur keluarga di Barat, khususnya di AS. Pada dekade 70-an dan 80-an, angka perceraian di AS meningkat dua kali lipat, menurut data yang ada, selama setahun telah terjadi lebih dari satu juta kasus perceraian. Dengan munculnya revolusi industri, kendati model keluarga tradisional yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, masih bertahan, namun kemudian memunculkan pula beberapa model keluarga baru yang hanya bernamakan keluarga. Beberapa model keluarga baru seperti single parents, dan keluarga pasangan homoseks semakin berkembang meluas. Model keluarga single parents, semakin marak di Barat sejak dasawarsa 60-an. Dalam model keluarga semacam ini, anak-anak hanya hidup bersama dengan salah satu orang tua mereka, dan dalam banyak kasus, mereka hidup dengan ibu mereka saja.
Tren menjadi orang tua tunggal atau single parent bukan cerminan budaya Indonesia. Karena kehidupan berbudaya di negara ini, tak mengatur adanya tindakan demikian. Sebab lembaga perkawinan merupakan sesuatu yang sakral. Tren single parent yang belakangan menjadi model kehidupan sosial sangat bertentangan dengan kehidupan negara ini, kembali kepada didikan moral masing-masing individu untuk menilainya.

Renungan :

Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar