Selasa, Desember 30, 2008

Ayah sebagai Pengasuh Bayi, Why Not?

Tugas seorang ayah tidaklah mudah, mencari nafkah dan mengusahakan keutuhan keluarga adalah dua tugas penting yang harus disandangnya. Disamping itu ayah juga harus berperan dalam menciptakan kebersamaan dan komunikasi dengan keluarganya. Kebersamaan dan komunikasi yang baik dapat diciptakan melalui beberapa kegiatan yang bisa dilakukan ayah bersama keluarga. Kegiatan tersebut dapat dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu melakukan aktivitas sehari-hari, berolahraga, dan bermain bersama istri dan anak-anak.
Jika pada generasi sebelum kita, pengasuhan anak cenderung didominasi oleh ibu, kini terjadi pergeseran konsep, dari pengasuhan motherhood menjadi parenthood. Konsep baru ini menitikberatkan pada peran orang tua, dan membuka peluang bagi keterlibatan ayah. Banyak ayah muda masa kini merasa nyaman dengan konsep ini. Mereka ingin menjadi sosok ayah yang dekat dengan anak dan punya peranan dalam pertumbuhannya. Ayah yang menjalankan peran pengasuhan secara optimal, ternyata sangat besar mempengaruhi perkembangan anak.
Pengamatan terhadap ayah dan bayinya menunjukkan bahwa ayah memiliki kemampuan untuk bertindak secara peka dan tanggap terhadap bayinya (parke & Sawin, 1980; Parke & Stearns, 1993). Umumnya ayah lebih relaks, simple , dan banyak memberi kebebasan pada si kecil untuk bereksplorasi. Tidak mudah mengubah pola pikir pria soal keterlibatan mengasuh anak.
Idealnya keterlibatan ayah sudah dimulai sejak si kecil lahir, tetapi, banyak pria yang tidak cukup percaya diri menangani anak-anak dengan segala keunikan karakter mereka. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai aktivitas bersama anak. Berbagai cara komunikasi yang intens dan hangat merupakan bentuk keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Ayah bisa mulai ikut serta menggendong, mengajak bermain, mengganti pakaian, memandikan, memberi makan, atau mengajak anak berbelanja ke mini-mart di sekitar tempat tinggalnya. Namun sayangnya banyak kendala yang dihadapi para ayah untuk meluangkan waktu bersama anaknya.
Agar hal ini tidak terjadi, para ibu harus membantu suami mereka dengan beberapa cara berikut ini: Dimulai sejak masa kehamilan. Sebaiknya istri mulai mengajak suami mempersiapkan diri menjadi ayah sejak masa kehamilan. Libatkan suami dalam pemeriksaan kandungan dan persiapan persalinan.
  • Turut merawat bayi
Istri harus membiarkan suami ikut merawat si kecil, misalnya: mengganti popok, memandikan, dan mengasuh bayinya. Tidak perlu takut dia akan melakukan kesalahan. Interaksi langsung dengan anak sejak masih bayi akan membuatnya semakin merasakan kehadiran anak dan sosoknya sebagai ayah.
  • Aktivitas bersama anak.
Saat bayi sudah mulai beranjak besar ayah harus melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama anak, misalnya saja bermain, membaca, atau berjalan-jalan.
  • Ciptakan komunikasi yang baik.
Ayah harus untuk menyempatkan diri menghubungi anak ketika tidak berada di rumah. Cara ini membuat anak tahu bahwa sekalipun ayah sedang tidak berada di rumah, dia tetap dapat diandalkan.
Tips membentuk keeratan (bonding) dengan anak :
· Yang utama adalah kesadaran tanggung jawab dan hak sebagai orangtua. Bagaimanapun Ayah menyumbang peran unik yang mewarnai kepribadian anak. Sebaiknya ibu jangan terlalu takut anak perempuannya menjadi tomboi karena sering berinteraksi dengan ayah. Biarkan anak mencoba berbagai kesempatan misal bermain bola, karena bukan permainannya yang dinilai tetapi proses saat anak bermain yaitu sikap sportif, kompetitif dan menyehatkan bukan?.
· Sadar terlibat. Sehingga ayah juga menyempatkan diri mengatur waktu antara pekerjaan dengan mengasuh anak sama halnya seperti Ibu bekerja.
· Bersikap konsisten. Ayah hanya punya waktu di saat-saat tertentu saja atau terkadang bersikap hangat, tapi kemudian hari bersikap agak keras. Hati-hati, anak bisa merasakannya yang akan menimbulkan kebimbangan (ambivalen). Jangan heran jika anak bingung menilai hubungannya dengan ayah dan akhirnya menjauh.
Menjadi ayah yang hangat dan perhatian terhadap perkembangan anak memeiliki teknik-teknik tertentu, antara lain : Pertama, luangkan waktu Anda untuk aktivitas di rumah. Maksudnya, Anda mesti menerima bahwa kehadiran si kecil mengharuskan Anda mengurangi segala kebebasan dan hobi Anda. Yakinlah bahwa si kecil butuh perhatian, waktu, tenaga dan pikiran Anda. Bukan hanya kegiatan di luar yang mesti dikurangi. Sikap hidup boros juga mesti distop. Ada kebutuhan si kecil yang mungkin membutuhkan banyak pengeluaran. Kedua, jalinlah komunikasi. Komunikasi yang sudah terjalin sejak si kecil dalam kandungan jangan sampai terputus. Karena kalau itu diabaikan, Anda akan mengalami kesulitan untuk bisa dekat dengan anak. Berikan cukup waktu dan peluang seluas-luasnya bagi anak untuk bercerita dan didengarkan. Secara psikologis pun kalau orang tua sering bertemu dan berdialog dengan anak, anak akan menghormati orang tuanya. Semakin besar dukungan Anda terhadap anak, semakin tinggi perilaku positif anak.
Ketiga, ajak ia berbicara, tertawa atau bermain. Biar pun sedikit, luangkanlah waktu untuk bercengkerama dengan dia. Kembangkan konsep pertemanan di mana ayah tidak selalu memerintah ataupun melarang, dan sebagai orang tua mereka juga bisa ditegur atau diajak bermain. Keempat, libatkan ia dalam pekerjaan Anda. Kebanyakan anak memandang kantor, pabrik, atau toko tempat ayahnya bekerja sebagai sebuah tempat asing. Dengan sesekali mengajak anak ke tempat kerja akan membuat mereka kenal dengan kegiatan ayahnya sehari-hari. Kelima, bangun citra diri anak. Khususnya citra diri mengenai kelaki-lakian. Bagaimanapun ayah punya peran penting dalam pembentukan kepribadian si anak di masa depan. Kedua orang tua diharapkan menunjukkan pada anaknya bahwa tanggung jawab keluarga itu memang harus dipikul bersama-sama. Misalnya, mengasuh anak, bernyanyi, bermain dengan anak-anak. Artinya, wawasan gender dalam peran laki-laki dan perempuan itu tidak dipersempit, tetapi sebaliknya diperluas.

1 komentar:

  1. Setuju banget sama pendapat mbak ini...
    Aku berbagi waktu dengan istriku. Sejak pulang ke rumah sampai besoknya lagi, urusan si anak jadi bagianku... Maminya biar istirahat trus kalo masih mau ya support kecil2an doank. Begitu pula hari libur...malah lebih banyak di aku nya heheheh...seru kok. Para calon ayah, jangan lewatkan kesempatan berharga itu OK?!

    BalasHapus